photo by: dino suryadi

 

JAKARTA – eXtremeINA.com Dede Suryana adalah surfer asal Cimaja Sukabumi kebanggaan Indonesia, lahir dari empat bersaudara dan ayah-nya adalah seorang petani di Cimaja. Lahir pada tanggal 11 Oktober 1985, Dede sudah bermain surfing sejak umur 7 tahun. Yang mengajarkannya bermain surfing adalah teman kakak-nya yang bernama Dicky Zulfikar, dan dia juga lah yang memberikan papan surfing pertama kepada Dede untuk bermain dan belajar surfing. Selain bermain surfing Dicky Zulfikar juga seorang atlet windsurfing Jawa Barat.

Awalnya Dede Suryana tidak mengharapkan lebih dari bermain surfing, apalagi dengan perlengkapan surfing yang tidak memadai dan juga orang tua yang tidak mendukung untuk berkarir di dunia surfing. Namun setelah dia melihat kemajuan seorang surfer asal Bali yang bernama Rizal Tanjung dan Wayan Betet Merta, yang berhasil keliling dunia hanya dengan papan surfingnya, Dede Suryana sangat terispirasi untuk terjun lebih dalam menggeluti dunia surfing ini, dan meraih cita-citanya untuk pergi keluar negri.

Sudah banyak prestasi yang sudah Dede Suryana dapat, dari kategori Nasional maupun Internasional. Tahun 2008 dia berhasil mendapatkan juara pertama di Indonesian Championship Kuta Festifal Surfing sekaligus menempatkan Dede di ranking pertama sebagai Surfer terbaik Indonesia Surfing Champuonship (ISC), dan Dede juga berhasil menyabet gelar lainnya seperti, Asian Beach Game dia berhasil mendapatkan juara pertama, dan Japan ProSurfing Association (JPSA) dia juga berhasil mendapatkan juara pertama.

Read more...

Dede Suryana, anak petani Cimaja, Pelabuhan Ratu menjadi top surfer dunia. Selancar air sudah digeluti Dede sejak usianya 6 tahun dengan 4 saudaranya. Ketika umur Dede, 11 tahun, ia berkenalan dengan David Arnold, 15 tahun, yang sedang belajar surfing juga. David tinggal di Indonesia bersama orang tuanya selama 4 tahun ini untuk persiapan film dokumenternya. Sebelumnya, ia bersekolah di Inggris. Temannya, Dede, setelah lulus SMP pindah ke Bali, sekolah di sana dengan biaya sponsor.

Selama ini yang menjadi top surfer adalah peselancar dari Amerika dan Australia. Dede yang yakin surfing bisa dijadikan pilihan karir, sudah mengikuti berbagai kejuaraan dunia surfing, seperti di Hawai-AS, Jepang dan tahun 2006 di Australia. Dede merasa tertantang menaklukkan para seniornya. Mengapa tidak ? Indonesia punya garis pantai terpanjang di dunia, dan kata bule2 itu “the best wave” itu ada di Indonesia. Ironisnya, yang jadi kiblat surfing dunia kok Amerika dan Australia. Olahraga selancar kurang dikenal di nusantara. Dede bertekad mempopulerkan Indonesia dengan keahliannya ( tahun 2008, dihelat Asian Beach Games/ ABG di Bali. Indonesia jadi juara umum ). Termasuk ketika memutuskan untuk menjadi peselancar bebas daripada peselancar internasional.

Menariknya, Dede tetap rajin beribadah. Ia muslim yang taat. Dalam film “Mengejar Ombak”, garapan  David Arnold, diperlihatkan Dede pergi ke masjid dengan sajadah tersampir di pundaknya. Bisa jadi syiar Islam dan contoh kerjasama yang baik antar bangsa, budaya dan agama. Film “Chasing the Wave” mendapat penghargaan film di Utah, AS. David yang baru pertama kali membuat film dan punya keterbatasan dana, mendapat bantuan dari Menbudpar, MetroTV dan perusahaan penerbangan, berupa tiket, akomodasi, transportasi dll.

Read more...

    

 

By Nathan Myers

Photos by Nate Lawrence

 

I’m checking in at the airport in Denpasar when Dede calls to cancel.

“I missed my connection in Paris,” he says. “I won’t be back to Indo for a few more days.”

Shit! We were rushing to catch a swell, the find time in Dede’s busy travel schedule, to hit our print deadlines…now it’s all ruined. Disaster.

“It’s okay,” I say. “Don’t panic, Dede. We can figure something out.”

I hear two Dede’s laughing, both through the phone and standing right behind me. That’s how we first met.

 

Actually, the first time we met was in Hawaii. I was just starting as editor for Surfing Mag and Dede was visiting the North Shore the first time.

Tracking him down was hard. Then I realized he barely spoke English.

The interview was for “Wipeout.” Dede had gotten pitched with the lip at Pipeline. Pretty brutal stuff. He could barely describe the experience.

We were all just learning the ropes.

Read more...